Ekuitas Pemegang Saham: Mulai dari Pengertian Sampai Komponennya

  • Bagikan
ekuitas pemegang saham

Istilah ekuitas akan sering Anda dengar dalam dunia bisnis, khususnya ketika Anda melihat neraca perusahaan. Selain ekuitas perusahaan, salah satu jenis dari ekuitas adalah ekuitas pemegang saham. Adanya jenis ekuitas ini memiliki peran yang sangat penting karena terkait dengan keberlangsungan investasi untuk perusahaan. Jika Anda belum familiar dengan ekuitas ini, berikut informasi lengkap yang bisa Anda simak.

Apa yang Dimaksud dengan Ekuitas Pemegang Saham?

ekuitas pemegang saham
(sumber gambar: alithadnews.com)

Secara umum, ekuitas juga memiliki arti sebagai modal, karena merupakan harga yang perusahaan keluarkan untuk biaya operasional. Kemudian modal tersebut akan mengalami pengurangan karena ada kewajiban lain yang harus perusahaan bayarkan. Ini membuat nilai ekuitas nantinya tidak selalu positif. Ekuitas bisa menjadi negatif apabila beban perusahaan lebih besar daripada aset yang mereka miliki.

Apabila nilai ekuitas ini negatif, maka harus pemilik perusahaan waspadai. Karena jika terus menerus terjadi, bisa saja mengarah ke kebangkrutan. Untuk itu, ekuitas perusahaan perlu sebisa mungkin berada dalam nilai yang baik dan positif. Pengertian ekuitas tersebut adalah untuk yang sifatnya general. Anda juga harus mengetahui bahwa ada pula ekuitas pemegang saham yang memiliki pengertian sedikit berbeda.

Shareholder equity atau ekuitas pemegang saham merupakan sejumlah uang yang terkait dengan pemegang saham perusahaan atau yang dalam hal ini adalah investor. Jadi, pemegang saham nantinya bisa mendapatkan sejumlah uang, ketika semua aset perusahaan sudah likuid dan semua beban perusahaan sudah lunas. Sebutan lain dari ekuitas pemegang saham adalah aset bersih, ekuitas pemilik, atau kekayaan bersih perusahaan.

Mengapa Perlu Mengetahui Ekuitas?

Nilai ekuitas memiliki peran dan fungsi yang sangat penting untuk perusahaan maupun bagi investor. Seperti yang sudah kami singgung sedikit pada bagian sebelumnya, jika nilai ekuitas ini negatif, maka pemilik perusahaan harus waspada karena jika terus menerus terjadi, bisa saja mengarah ke kebangkrutan. Untuk itu nilai ekuitas yang ada bisa menjadi bahan evaluasi dan melihat seperti apa kondisi keuangan perusahaan.

Sementara bagi para investor, nilai ekuitas juga akan sangat mempengaruhi keputusan investasi yang akan mereka lakukan. Perusahaan yang nilai ekuitasnya negatif, maka bisa saja investasi yang mereka lakukan akan berisiko. Karena perusahaan sedang memiliki beban yang lebih besar daripada aset yang mereka punya. Untuk itu, sebagai investor maka usahakan untuk memilih perusahaan yang nilai ekuitasnya baik.

Formula atau Rumus Ekuitas Pemilik

Pada dasarnya, formula untuk mengetahui bagaimana ekuitas dari pemilik saham cukup mudah untuk Anda hitung. Formulanya adalah seperti ini:

Ekuitas pemegang saham = Total Aset Perusahaan – Total Liabilitas (Beban) Perusahaan 

Jadi ketika ingin menghitung ekuitas pemilik, maka Anda hanya perlu untuk mengurangi jumlah aset dan beban perusahaan. Apabila nilainya positif, maka kondisi keuangan bisa dikatakan baik. Namun apabila jumlahnya negatif, maka bisa mengindikasikan bahwa keuangan perusahaan sedang tidak baik.

Baca Juga: Update Terbaru Pasar Saham Hari Ini dan Rekomendasinya

Komponen Ekuitas Pemegang Saham

ekuitas pemegang saham
(sumber gambar: personalarcloan.com)

Selain formula atau rumus menghitungnya, perlu Anda ketahui juga apa saja komponen yang ada di dalam laporan ekuitas pemilik saham. Beberapa komponen tersebut adalah:

1. Modal Kontribusi atau Disetor (Paid-in or Contributed Capital) 

Komponen pertama yang ada dalam laporan keuangan adalah modal kontribusi. Artinya adalah sejumlah uang yang investor bayarkan ketika saham ditawarkan kepada publik. Jadi, modal ini adalah jumlah uang yang berhasil perusahaan dapatkan ketika mulai menjuall saham. Kemuddian nantinya ada juga tambahan modal disetor, yang berarti perbedaan nilai jual saham dan nilai nominal saham yang masuk.

2. Laba yang Ditahan (Retained Earnings) 

Maksud komponen ini adalah laba bersih yang berhasil perusahaan peroleh, dan tidak mereka distribusikan kepada investor sebagai dividen. Nantinya laba ini nilainya bisa berubah menjadi negatif apabila perusahaan sudah mulai kehilangan uang secara berkala dari waktu ke waktu.

3. Saham Treasury (Treasury Stock) 

Komponen yang satu ini memiliki arti saham yang sudah perusahan beli kembali. Kegiatan pembelian ini akan membuat terjadinya pengurangan ekuitas pemilik, sekaligus jumlah saham beredar akan berkurang. Saham yang masuk dalam treasury, tidak akan menerima dividen dan juga tidak punya hak suara.

4. Akumulasi Penghasilan Komprehensif Lain (Accumulated Other Comprehensive Income) 

Arti komponen ini adalah kumulatif atau total penghasilan komprehensif yang lain. Nilai ini berasal dari transaksi yang bisa mempengaruhi ekuitas perusahaan, namun tidak terikat dengan pemilik saham secara langsung.

5. Kepentingan Non-pengendali (Non-controlling Income) atau Hak Minoritas (Minority Interest) 

Komponen ini memiliki arti bagian prorata dari pemegang saham yang minoritas atas aset bersih anak perusahaan, namun yang tidak sepenuhnya perusahaan miliki.

Cara Jitu Memilih Saham dari Laporan Keuangan Perusahaan

Seperti yang sudah kami singgung sedikit pada bagian sebelumnya, nilai ekuitas akan berperan penting untuk investor ketika menentukan keputusan investasi. Untuk lebih lengkapnya, berikut beberapa cara jitu yang bisa Anda terapkan untuk memilih saham yang tepat, berdasarkan laporan keuangannya:

1. Perhatikan Ekuitas dan Laba Bersih

Ketika suatu perusahaan memiliki kondisi keuangan yang bagus, maka nilai laba bersihnya akan cenderung naik. Hal ini juga berlaku untuk nilai total ekuitasnya. Untuk itu, pastikan ketika memilih saham, harus berasal dari perusahaan yang memiliki nilai ekuitas dan laba bersih yang cenderung naik.

2. Nilai Utang yang Kecil

Hal lain yang harus Anda perhatikan ketika memilih saham adalah perhatikan nilai utangnya. Pilihlah perusahaan dengan nilai utang yang kecil, atau maksimal sama dengan nilai ekuitas yang mereka miliki. Sebab ini bisa menjadi indikator bagaimana kesehatan keuangan perusahaan tersebut.

3. Presentase Dividen 30-40% atau Lebih

Hal lain yang harus Anda perhatikan adalah pembagian dividen yang akan tercantum di sebuah laporan keuangan. Dengan mengetahui besaran dividen, investor bisa melihat akurasi informasi tentang laba bersih perusahaan. Perusahaan bisa saja melaporkan perolehan laba bersih mereka, namun apabila tidak ada dividen yang terbayar maka laba tersebut bisa diragukan kebenarannya.

Presentase dividen yang kurang dari 30%-40% maka kategorinya terlalu kecil, dan Anda sebagai investor berhak untuk mendapatkan bagian lebih dari itu. Akan tetapi jika lebih dari angka tersebut, bisa mengindikasikan bahwa perusahaan sudah mature atau mapan. Sebagai keputusan terbaik, pilihlah perusahaan yang membayarkan dividen tidak terlalu kecil, namun tidak terlalu besar.

4. Laba Harus Positif dan Lebih Besar Dari Modal yang Disetor

Ketika Anda melihat bagian ekuitas, maka Anda akan menjumpai jumlah modal yang disetor dan tambahan modal disetor. Selain itu ada juga informasi jumlah nilai saldo laba. Dari semua nilai tersebut, pastikan bahwa saldo labanya positif dan lebih besar apabila total modal yang disetor. Karena nilai positif ini bisa mengindikasikan bahwa perusahaan tersebut memiliki pertumbuhan keuangan yang bagus.

5. Utang yang Memiliki Bunga Berjumlah Kecil

Beberapa jenis utang yang mengandung bunga contohnya adalah utang bank dan obligasi. Ketika memiliki jumlah utang mengandung bunga yang kecil, maka suatu perusahaan bisa dikategorikan memiliki kondisi finansial cukup bagus. Sebab, bunga ini nantinya akan masuk menjadi liabilitas atau beban perusahaan yang bisa mengurangi laba bersih.

6. Jumlah Current Ratio yang Besar

Pertimbangan terakhir yang harus Anda perhatikan adalah jumlah current ratio yang jumlahnya harus besar. Perusahaan yang berada dalam kondisi baik, akan memiliki total aset lancar yang lebih besar daripada utang lancarnya. Karena jika memiliki kondisi seperti ini, perusahaan tidak memiliki resiko gagal bayar yang bisa mengarah ke kebangkrutan. Jika sebaliknya, bisa saja perusahaan akan sulit membayar semua hutang dan kewajibannya hingga berujung bangkrut. Tentu hal ini harus Anda hindari bukan?

Nah, itulah informasi mengenai ekuitas pemegang saham yang bisa Anda pahami. Kesimpulannya, mengetahui nilai ekuitas akan sangat penting untuk perusahaan maupun bagi investor. Bagi perusahaan, nilai ini bisa menjadi bahan evaluasi dan untuk melihat kondisi keuangan perusahaan apakah berada dalam kondisi yang bagus atau tidak.

Sementara untuk para investor, kehadiran nilai ekuitas bisa menjadi bahan pengambilan keputusan untuk memutuskan berinvestasi atau tidak di suatu perusahaan. Sebagai investor, Anda juga harus bisa melihat berbagai komponen yang ada di laporan keuangan, supaya saham yang terpilih nantinya merupakan saham terbaik dan bisa memberikan keuntungan yang maksimal untuk Anda.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.